Suhendra, S.TP

Suhendra, S.TP

Ada yang menarik bila kita kaji tingkat ke bakuan kurikulum pendidikan kita. Entah memang desainnya harus seperti itu, atau memang sudah jadi aturan 'keramat' bahwa kurikulum harus di buat sedemikian rumit dengan memaksakan begitu banyak indikator pencapaian dari begitu banyak pelajaran. Diluar dari penyangkalan pentingnya kurikulum untuk mengatur konsep pendidikan secara sistematis dan teratur, ada pentanyaan menggelitik. Apakah aturan baku dalam kurikulum itu sudah diatur dan terukur atau hanya aturan baku saja?

Mari survey secara pribadi, bagi kita yang pernah menempuh pendidikan sampai Sekolah Menengah Atas. Kita di kenalkan dan di ajarkan pelajaran Bahasa Inggris sejak Sekolah Dasar. Tak tanggung sampai di ujikan secara nasional dan jam pelajaran pun di buat 4 jam sepekan. Cara mengajarkan bahasa inggris juga terus di pacu agar sesuai standar kurikulum. Pertanyaannya menjadi, kenpa jutaan anak yang pernah menempuh pelajaran bahasa inggris sejak SD itu tetap belum mampu berbicara bahasa inggris? Seperti sebelumnya, survey secara pribadi dan jujur, berapa banyak teman lulusan SMA kita yang sudah bisa berbicara bahasa inggris dengan baik? Tidak mesti lancar, hanya baik dan cukup untuk sebuah diskusi dengan durasi minimal 30 menit saja. Adakah hasilnya sampai lebih dari 50% dari total teman 1 agkatan di sekolah? Atau bahkan kita sendiri pun termasuk yang belum bisa berbicara bahasa inggris dengan baik itu.

Padahal cara mengajar teah di sesuaikan baik secara paksa atau sukarela agar sesuai setandar kurikulum, kan. Namun kenapa selalu saja setiap tahun masih sangat banyak siswa lulusan SMA yang buta akan bahasa inggris. Dan lebih harus di pertanyakan lagi, apabila sudah di ketahui bahwa konsep pengajaran tersebut belum dapat di katakan berhasil, lantas kenapa terus di biarkan berkembang sepanjang tahun? Jadi apa tujuan dari di susun kurikulum apabila justru esensi dari pelajaran bahasa malah gagal membuat murid menguasai bahasa itu.

Sekali lagi, diluar dari dalil dan alasan betapa penting dan telah sempurnanya kurikulum yang ada saat ini, dapatkah di ketahui secara pasti persentasi keberhasilan kurikulum yang ada? Adakah itu menjadi bahan evalusi, atau justru penyangkalan untuk menyalahkan perbedaan infrastruktur dan level akreditasi sekolah. Sehingga menjadi keleluasaan untuk menjawab kebelum berhasilan penerapan kurikulum akibat dari belum adanya infrastuktur yang memadai di sekolah. Dan dengan ‘legowonya’ kita mengikhlaskan sekolah-sekolah di daerah itu di biarkan tertinggal karena belum dapat menerapkan kurikulum dengan baik.

Mari kita kerucutkan kembali tujuan pendidikan yang terjabar menjadi sangat rumit itu menjadi 3 kata saja, ‘Mencerdaskan Kehidupan Berbangsa’. Kecerdasan yang menjadi ukuran. Kurikulum di buat untuk menempuh tujuan pendidikan nasional yani membuat bangsa ini cerdas. Sehingga kurikulum hanya bagian dari cara. Dan yang namanya cara itu adalah wilayah yang dipenuhi pilihan tidak hanya satu. Sehingga statusnya tidak wajib. Dan harusnya tertulis ketarangan bahwa kurikulum yang ada tidak wajib di terapkan, menyesuaikan kebutuhan sekolah dan keadaan sekolah. Tanpa ada intervensi dari tim pengawas sekolah atau kementrian pusat.
Apakah itu berarti sekolah lalu tidak punya standar pengajaran? Bukan tidak punya standar. Hanya seperti penekanan jika pemerintah masih belum sanggup membuat satu kurikulum baku untuk pengelolaan pendidikan dengan sifat universal serta memiliki hasil terukur, maka buatlah sistem otonomi sekolah. Dimana sekolah dapat mengkreasikan kurikulum yang ada sesuai dengan tujuan yang ingin di capai sekolah dan menyesuaikan dengan keadaan sekolah tersebut. Itu yang di sebut dengan rekayasa kurikulum, saat sekolah memiliki hak pengaturan konsep pendidikan dengan cara yang paling sesuai.
Contoh penerapan rekayasa kurikulum adalah sebagai berikut.

Jika sebuah sekolah menginginkan anak-anaknya dapat berbahasa inggris aktif ketika selesai studi, maka pengajaran bahasa inggris tidak bisa hanya di buat 4 jam saja. Sistem belajar bahasa adalah mengangkat filosofi bayi. Bayi belajar bahasa dengan mendengar, kemudian ia coba mengucapkan. Saat telah cukup mampu berbicara, barulah diperkenalkan pada huruf dan di ajar membaca. Usai pandai membaca, barulah seorang anak di ajarkan untuk menulis. Begitu lazimnya proses belajar berbahasa oleh manusia. Sangat sulit dipahami bila seorang bayi langsung di tuntut untuk mendengar, berbicara, membaca dan menulis dalam waktu bersamaan. Secara logis pun itu keluar dari kaidah proses belajar manusia. Maka alangkah fatalnya jika pembelajaran bahasa di awal telah dituntut perfect.

Tidak hanya proses yang benar, tetapi juga penekanan khusus. Kita telah mengarahkan secara penuh agar selama pelajaran bahasa inggris siswa hanya harus mendengar dan berbicara. Belum mempelajari aturan penyusunan kalimat yang baku atau cara berbicara yang benar sesuai kaidah tata bahasa inggris. Tetapi untuk kuantitas pertemuan 4 jam se pekan yang di ataur untuk 2 kali pertemuan, atau 240 jam se tahun, hanya sama dengan 10 hari belajar bahasa inggris. Bagaimana bisa 10 hari belajar bahasa inggris akan dapat membuat siswa bisa berbicara baik? Bukankah seorang bayi perlu setidaknya 2 tahun mendengar bahasa agar bisa mengucapkannya.

Maka untuk tujuan ‘aktif berbicara bahasa inggris’ tidak bisa hanya mengandalkan waktu yang ada. Harus ada tambahan waktu yang minimal sepanjang hari sekolah, siswa harus terus belajar berbicara bahasa inggris. Ada konsistensi yang memaksa siswa berinteraksi setiap hari. Sehingga jam ideal minila belajar bahasa inggris adalah 6 jam dalam sepekan dengan pertemuan 6 kali dalam seminggu.

Pasti ini tidak mudah, khususnya dalam penjadwalan. Karena lagi-lagi, sekolah di bebankan untuk mengajarkan bengitu banyak pelajaran dan menuntut siswanya menguasai semua pelajaran dengan baik dalam waktu bersamaan. Sehingga tetap akan mempengaruhi jam mata pelajaran lain. Namun itulah konsekuanesi dari sebuah tujuan khusus. Karena bila tidak ada langkah berani untuk merekayasa kurikulum, memillih tujuan paling penting yang harus di capai siswa, maka proses pendidikan hanya akan terjadi seperti umumnya. Dimana pelajaran belum benar-benar mengembangkan kecerdasan siswa, dan belum cukup siap membekali dengan kecakapan khusus yang akan mereka gunakan paska studi.

Sejarah kebelum berhasilan penerapan kurikulum tidak boleh terus berulang sepanjang tahun. Manusia berenda dengan keledai yang terus jatuh pada lubang yang sama. Harusnya kita dapat mengambil langkah khusus untuk penyelamatan siswa. Rekayasa kurikulum, mungkin menjadi alternatif yang layak coba. Karena ia di rancang untuk menyentuh kebutuhan paling prioritas bagi masa depan siswa.

Suhendra, Dept. Technology of Agroindustry.

Peningkatan daya saing global dapat ditunjang dari peningkatan kualitas riset. Semakin baik kualitas riset suatu negara, maka semakin baik pula daya saingnya. Semakin banyak publikasi hasil penelitian dalam bentuk jurnal penelitian oleh suatu negara, maka mengindikasikan semakin baiknya kualitas pelaksanaan riset negara tersebut. Apalagi jika jurnal publikasi adalah jurnal yang terakreditasi secara Internasional.

Publikasi hasil penelitian dalam bentuk jurnal memang menjadi faktor penentu yang penting. Bahkan standar mutu pengembangan IPTEK suatu negara dapat diketahui hanya dari jumlah jurnal yang dihasilkan. Tentu yang dimaksud bukan hanya sekedar publikasi hasil riset, tetapi dari jurnal yang terakreditasi dan memiliki reputasi unggul dan diakui secara nasional maupu internasional.

Merujuk pada data yang dipublikasi oleh Scopus dan SCImago Labs dalam The SCImago Journal & Country Rank, Indonesia menduduki peringkat ke 55 dengan jumlah publikasi dokumen 4.175 pada tahun 2013. Jika di bandingkan dengan negara di wilayah Asia, Indonesia masih sangat jauh tertinggal. Apalagi dari Negara seperti China yang publikasinya mencapai 426.677 dokumen. Atau jika dibandingkan dengan Negara di Asia Tenggara seperti Malaysia saja, Indonesia tak sampai seperempat dari jumlah jurnal yang dihasilkan oleh Malaysia yang mencapai 23.190 dokumen. Atau Singapura dan Thailand dengan angka 17.052 dan 11.313 dokumen.

Budaya Riset

Indonesia boleh berbangga, bahwa dari 2012 ke 2013 Indonesia telah mengalamai peningkatan jumlah publikasi ilmiah, yaitu dari 3.551 menjadi 4.175, tapi peningkatan tersebut terasa belum sebanding dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Apalagi jika melihat ke Negara di sekitar Indonesia yang telah melampauai jauh, padahal dari segi SDA maupun SDM tidak lebih baik dari Indonesia.

Bisa jadi, lemahnya kualitas riset dan publikasi di Indonesia, selain ditunjang oleh faktor keterbatasan dana riset, juga karena budaya riset yang belum membumi di tataran lembaga pendidikan di Indonesia. Saat ini, riset masih terpusat di Perguruan Tinggi. Belum masuk secara serius di tingkat pendidikan di bawahnya, seperti di tingkat Sekolah Menengah Atas.

Padahal, saat peserta didik telah masuk di level sekolah atas, secara keilmuwan telah dapat melakukan riset dengan sekala sederhana. Tambah lagi, riset adalah aktivitas yang tak selalu berhubungan dengan fasilitas laboratorium yang memadai. Riset mencakup seluruh bidang ilmu dengan pengkajian khusus untuk membuktikan hipotesis.

Sehinggapada dasarnya, tidak ada alasan untuk tidak megembangkan riset dalam sekala sekolah. Dan tidak perlu menunggu kelengkapan fasilitas. Justru riset yang baik adalah saat gagasan yang diangkat bersumber dari kekayaan lokal dan dapat dilakukan dengan sekala sederhana, untuk hasil yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat.

Aspek kesederhaan proses untuk hasil yang mampu diaplikasikan oleh masyarakat adalah inovasi paling penting. Agar nilai riset benar-benar menjawab persoalan masyarakat. Ke khasan lokal juga faktor penting supaya hasil riset dapat optimal dikembangkan di suatu daerah. Kriteria tersebut yang akan membuat riset membumi.

Memulai Riset

Nothing is Impossible, bahwa tidak pernah ada yang tidak mungkin untuk sebuah ikhtiar baik. Begitu pula dengan proses membudayakan riset di sekolah atas. Memulai riset sama seperti memulai aktivitas lain.

Tahap pertama yang dapat dilaksanakan untuk memulai riset adalah mengidentifikasi ketersediaan sumber daya alam yang akan di jadikan objek riset. Semakin mudah diperoleh, akan semakin baik proses selanjutnya. Tahap kedua adalah mengidentifikasi kebutuhan mendasar yang secara umum menjawab keluhan masyarakat. Baru kemudian mengkaji kemungkinan hubungan antara ketersediaan objek dan kebutuhan. Pada tahap ini inovasi atau gagasan kraetif berjalan. Bagaimana inovasi sederhana namun aplikatif dan dibutuhkan itu akan di rancang, sampai pada tahap membuat prototype.

Sebagai contoh, gagasan yang masuk ke tahap riset adalah pemanfaatan potensi laut di Propinsi Bengkulu sebagai sumber ecoelectric. Judul yang saat ini sedang dipersiapkan untuk dikembangkan oleh peserta didik di SMAIT IQRA’ Kota Bengkulu. Teori yang diangkat adalah ion dalam larutan elektrolit yang ditangkap untuk menjadi sumber arus listrik.

Dalam ilmu fisika, air dengan kandungan garam tinggi seperti air laut adalah elektrolit yang dapat menghatarkan listrik, dan jumlahnya tersedia dalam jumlah banyak. Di lain kasus, masyarakat pesisir ketika melaut mencari ikan di malam hari, masih menggunakan solar sebagai sumber energi untuk penerangannya. Selain tidak ramah lingkungan, penggunaan solar juga memakan biaya. Padahal kapal nelayan melewati sumber energi listrik ramah lingkungan (ecoelectric) dalam jumlah besar setiap kali melaut.

Setelah tahap identifikasi potensi dan terdapat kemungkinan dilaksanakannya gagasan, adalah tahap pembuatan prototype yang akan menjadi media penghubung gagasan. Prototype inilah yang menjadi hasil akumulasi gagasan dan di kaji kelayakannya. Berupa alat yang akan menyerap ion dalam air laut lalu mengubahnya menjadi listrik untuk menghidupkan lampu kapal nelayan. Topik riset menyangkut besar arus yang dihasilkan dengan pertimbangan lebar lempeng besi dan tembaga penyerap ion dari air laut.

Membumikan Riset

Membudayakan aktivitas riset di kalangan sekolah atas bukan kemustahilan. Selain memang sebagai aktivitas berkreasi dan mengembangkan gagasan, ruang riset bagi peserta didik juga bertujuan menyiapkan generasi peneliti untuk meningkatkan daya saing bangsa.

Jika saat ini Indonesia masih tertinggal dalam hal publikasi jurnal ilmiah karena riset yang dilakukan masih terbatas jumlahnya, maka dengan pembiasaan melakukan riset sejak sekolah menengah adalah ikhtiar jangka panjang untuk mendongkrak daya saing bangsa.

Bayangkan, jika sejak sekolah peserta didik telah berhasil melakukan inovasi dan riset yang aplikatif, bukan mustahil minat tersebut akan berkembang dengan sangat baik saat menginjak ke jenjang Perguruan Tinggi. Dan itu berarti, dengan wadah yang lebih luas dan ruang yang lebih tinggi, peserta didik akan dapat menghasilkan inovasi leih baik lagi untuk bersaing di tingkat Internasional. Semuanya dapat terjadi saat riset telah diperkenalkan dan menjadi budaya sejak pendidikan penengah atas. Proses tersebut membuat riset membumi di Indonesia.

Profile

Hadist

”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (H.R. Tirmidzi)
”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (H.R. Tirmidzi)
"Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menerima amal seseorang kecuali dengan niat yang tulus dan semata-mata mencari keridhoan-Nya”. (H.R. Nasa’i)
Janganlah kalian belajar (menuntut ilmu) bertujuan untuk berbangga pada ulama karenanya, dan untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, begitu pula bertujuan agar karenanya orang-orang dapat berpaling (menarik perhatian), maka barang siapa yang melakukan itu maka ia masuk neraka. (H.R. Ibnu Majah)