Anindita V.F

Anindita V.F

Kamis, 18 Desember 2014

Meretas Asa Pada Pemerintahan Baru

Anindita Virgia Fanny

Sepanjang musim pemilu periode 2014, sebagian besar rakyat menengah di republik ini menggerutu karena ‘wall’ media sosial mereka dipenuhi berita para capres. Pilpres kali ini memang lebih berisik dari biasanya. Ini tercermin dari setiap manuver yang dilakukan masing-masing capres sangat berdampak pada seluruh sendi kehidupan bangsa, baik kondisi sosial maupun ekonomi. Terlebih lagi ketika pemerintahan baru yang telah terpilih ini mengusung jargon “Revolusi Mental” pada setiap kampanye yang mereka lakukan. Jargon tersebut terdengar mengandung makna perhatian khusus terhadap sumber daya manusia. Hal ini pun memicu munculnya wacana tentang perbaikan kelayakan pendidikan di negeri ini.
Pendidikan menjadi wacana sentral. Bagaimanapun juga, bicara pendidikan Indonesia berarti bicara sesuatu yang sangat dilematis. Selalu ada kekurangan dan catatan merah atas kinerja kementrian pendidikan dalam mengelola pendidikan. Maka dari itu, sudah sepatutnya hal ini menjadi titik awal evaluasi pemerintahan baru untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia.


Setidaknya untuk saat ini, ada beberapa hal yang yang diperbaiki oleh pemerintahan baru pada bidang pendidikan. Yang pertama, pemerintah diharapkan memperkuat infrastruktur pendidikan yang merata, sehingga tidak ada lagi potret anak bangsa yang harus belajar di kandang kambing ataupun anak bangsa yang harus menyeberangi arus sungai yang deras demi memenuhi hak pendidikan yang dimilikinya.


Potret seperti inilah yang memperburuk citra bangsa, padahal dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 31 ayat 1 menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga berhak mendapat pengajaran” dan pada ayat 2 disebutkan bahwa “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintahan wajib membiayainya”. Hal ini berbanding terbalik dengan realitas yang terjadi di Indonesia saat ini.
Selanjutnya, pemerintahan baru sebaiknya memperbaiki LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) agar kualiatas guru menjadi lebih baik lagi. Penggunaan kurikulum yang sangat sempurna pun akan sangat percuma bila gurunya tak berkualitas.


Kemudian, saat ini kita telah banyak melihat kenyataan bahwa fokus para guru saat ini bukanlah mengajar, tetapi profesi guru hanya sekedar ‘title’ ladang pencarian nafkah mereka secara pribadi. Padahal, seharusnya fokus dan tujuan utama seorang guru atau pendidik adalah untuk dan menyonsong masa depan orientasi pendidikan para siswanya serta memprioritaskan pada kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan saat masa mendatang untuk para siswanya. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi semata.


Yang terakhir, pemerintahan baru harus mengusung tema pendidikan moral yaitu memberikan cara bagaimana hidup bermasyarakat dan memanusiakan manusia, bukan hanya sekedar intelektual. Karena generasi penerus suatu bangsa tak akan bisa hidup dan maju jika hanya bermodalkan intelektual, namun akhlak dan etika juga harus di utamakan, terlebih lagi negara Indonesia merupakan negara yang beradat ketimuran, yaitu bangsa yang menjunjung tinggi etika, akhlak, serta sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan keempat hal tersebut, semoga pemerintahan yang baru kedepannya memiliki motivasi untuk memajukan pendidikan dan masa depan bangsa yang cemerlang lebih bisa terwujud.

Profile

Hadist

”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (H.R. Tirmidzi)
”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (H.R. Tirmidzi)
"Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menerima amal seseorang kecuali dengan niat yang tulus dan semata-mata mencari keridhoan-Nya”. (H.R. Nasa’i)
Janganlah kalian belajar (menuntut ilmu) bertujuan untuk berbangga pada ulama karenanya, dan untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, begitu pula bertujuan agar karenanya orang-orang dapat berpaling (menarik perhatian), maka barang siapa yang melakukan itu maka ia masuk neraka. (H.R. Ibnu Majah)