Senin, 14 September 2015

Rekayasa Kurikulum Untuk Menyentuh Kebutuhan Siswa

Written by 

Ada yang menarik bila kita kaji tingkat ke bakuan kurikulum pendidikan kita. Entah memang desainnya harus seperti itu, atau memang sudah jadi aturan 'keramat' bahwa kurikulum harus di buat sedemikian rumit dengan memaksakan begitu banyak indikator pencapaian dari begitu banyak pelajaran. Diluar dari penyangkalan pentingnya kurikulum untuk mengatur konsep pendidikan secara sistematis dan teratur, ada pentanyaan menggelitik. Apakah aturan baku dalam kurikulum itu sudah diatur dan terukur atau hanya aturan baku saja?

Mari survey secara pribadi, bagi kita yang pernah menempuh pendidikan sampai Sekolah Menengah Atas. Kita di kenalkan dan di ajarkan pelajaran Bahasa Inggris sejak Sekolah Dasar. Tak tanggung sampai di ujikan secara nasional dan jam pelajaran pun di buat 4 jam sepekan. Cara mengajarkan bahasa inggris juga terus di pacu agar sesuai standar kurikulum. Pertanyaannya menjadi, kenpa jutaan anak yang pernah menempuh pelajaran bahasa inggris sejak SD itu tetap belum mampu berbicara bahasa inggris? Seperti sebelumnya, survey secara pribadi dan jujur, berapa banyak teman lulusan SMA kita yang sudah bisa berbicara bahasa inggris dengan baik? Tidak mesti lancar, hanya baik dan cukup untuk sebuah diskusi dengan durasi minimal 30 menit saja. Adakah hasilnya sampai lebih dari 50% dari total teman 1 agkatan di sekolah? Atau bahkan kita sendiri pun termasuk yang belum bisa berbicara bahasa inggris dengan baik itu.

Padahal cara mengajar teah di sesuaikan baik secara paksa atau sukarela agar sesuai setandar kurikulum, kan. Namun kenapa selalu saja setiap tahun masih sangat banyak siswa lulusan SMA yang buta akan bahasa inggris. Dan lebih harus di pertanyakan lagi, apabila sudah di ketahui bahwa konsep pengajaran tersebut belum dapat di katakan berhasil, lantas kenapa terus di biarkan berkembang sepanjang tahun? Jadi apa tujuan dari di susun kurikulum apabila justru esensi dari pelajaran bahasa malah gagal membuat murid menguasai bahasa itu.

Sekali lagi, diluar dari dalil dan alasan betapa penting dan telah sempurnanya kurikulum yang ada saat ini, dapatkah di ketahui secara pasti persentasi keberhasilan kurikulum yang ada? Adakah itu menjadi bahan evalusi, atau justru penyangkalan untuk menyalahkan perbedaan infrastruktur dan level akreditasi sekolah. Sehingga menjadi keleluasaan untuk menjawab kebelum berhasilan penerapan kurikulum akibat dari belum adanya infrastuktur yang memadai di sekolah. Dan dengan ‘legowonya’ kita mengikhlaskan sekolah-sekolah di daerah itu di biarkan tertinggal karena belum dapat menerapkan kurikulum dengan baik.

Mari kita kerucutkan kembali tujuan pendidikan yang terjabar menjadi sangat rumit itu menjadi 3 kata saja, ‘Mencerdaskan Kehidupan Berbangsa’. Kecerdasan yang menjadi ukuran. Kurikulum di buat untuk menempuh tujuan pendidikan nasional yani membuat bangsa ini cerdas. Sehingga kurikulum hanya bagian dari cara. Dan yang namanya cara itu adalah wilayah yang dipenuhi pilihan tidak hanya satu. Sehingga statusnya tidak wajib. Dan harusnya tertulis ketarangan bahwa kurikulum yang ada tidak wajib di terapkan, menyesuaikan kebutuhan sekolah dan keadaan sekolah. Tanpa ada intervensi dari tim pengawas sekolah atau kementrian pusat.
Apakah itu berarti sekolah lalu tidak punya standar pengajaran? Bukan tidak punya standar. Hanya seperti penekanan jika pemerintah masih belum sanggup membuat satu kurikulum baku untuk pengelolaan pendidikan dengan sifat universal serta memiliki hasil terukur, maka buatlah sistem otonomi sekolah. Dimana sekolah dapat mengkreasikan kurikulum yang ada sesuai dengan tujuan yang ingin di capai sekolah dan menyesuaikan dengan keadaan sekolah tersebut. Itu yang di sebut dengan rekayasa kurikulum, saat sekolah memiliki hak pengaturan konsep pendidikan dengan cara yang paling sesuai.
Contoh penerapan rekayasa kurikulum adalah sebagai berikut.

Jika sebuah sekolah menginginkan anak-anaknya dapat berbahasa inggris aktif ketika selesai studi, maka pengajaran bahasa inggris tidak bisa hanya di buat 4 jam saja. Sistem belajar bahasa adalah mengangkat filosofi bayi. Bayi belajar bahasa dengan mendengar, kemudian ia coba mengucapkan. Saat telah cukup mampu berbicara, barulah diperkenalkan pada huruf dan di ajar membaca. Usai pandai membaca, barulah seorang anak di ajarkan untuk menulis. Begitu lazimnya proses belajar berbahasa oleh manusia. Sangat sulit dipahami bila seorang bayi langsung di tuntut untuk mendengar, berbicara, membaca dan menulis dalam waktu bersamaan. Secara logis pun itu keluar dari kaidah proses belajar manusia. Maka alangkah fatalnya jika pembelajaran bahasa di awal telah dituntut perfect.

Tidak hanya proses yang benar, tetapi juga penekanan khusus. Kita telah mengarahkan secara penuh agar selama pelajaran bahasa inggris siswa hanya harus mendengar dan berbicara. Belum mempelajari aturan penyusunan kalimat yang baku atau cara berbicara yang benar sesuai kaidah tata bahasa inggris. Tetapi untuk kuantitas pertemuan 4 jam se pekan yang di ataur untuk 2 kali pertemuan, atau 240 jam se tahun, hanya sama dengan 10 hari belajar bahasa inggris. Bagaimana bisa 10 hari belajar bahasa inggris akan dapat membuat siswa bisa berbicara baik? Bukankah seorang bayi perlu setidaknya 2 tahun mendengar bahasa agar bisa mengucapkannya.

Maka untuk tujuan ‘aktif berbicara bahasa inggris’ tidak bisa hanya mengandalkan waktu yang ada. Harus ada tambahan waktu yang minimal sepanjang hari sekolah, siswa harus terus belajar berbicara bahasa inggris. Ada konsistensi yang memaksa siswa berinteraksi setiap hari. Sehingga jam ideal minila belajar bahasa inggris adalah 6 jam dalam sepekan dengan pertemuan 6 kali dalam seminggu.

Pasti ini tidak mudah, khususnya dalam penjadwalan. Karena lagi-lagi, sekolah di bebankan untuk mengajarkan bengitu banyak pelajaran dan menuntut siswanya menguasai semua pelajaran dengan baik dalam waktu bersamaan. Sehingga tetap akan mempengaruhi jam mata pelajaran lain. Namun itulah konsekuanesi dari sebuah tujuan khusus. Karena bila tidak ada langkah berani untuk merekayasa kurikulum, memillih tujuan paling penting yang harus di capai siswa, maka proses pendidikan hanya akan terjadi seperti umumnya. Dimana pelajaran belum benar-benar mengembangkan kecerdasan siswa, dan belum cukup siap membekali dengan kecakapan khusus yang akan mereka gunakan paska studi.

Sejarah kebelum berhasilan penerapan kurikulum tidak boleh terus berulang sepanjang tahun. Manusia berenda dengan keledai yang terus jatuh pada lubang yang sama. Harusnya kita dapat mengambil langkah khusus untuk penyelamatan siswa. Rekayasa kurikulum, mungkin menjadi alternatif yang layak coba. Karena ia di rancang untuk menyentuh kebutuhan paling prioritas bagi masa depan siswa.

Read 1515 times

Profile

Hadist

”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (H.R. Tirmidzi)
”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (H.R. Tirmidzi)
"Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menerima amal seseorang kecuali dengan niat yang tulus dan semata-mata mencari keridhoan-Nya”. (H.R. Nasa’i)
Janganlah kalian belajar (menuntut ilmu) bertujuan untuk berbangga pada ulama karenanya, dan untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, begitu pula bertujuan agar karenanya orang-orang dapat berpaling (menarik perhatian), maka barang siapa yang melakukan itu maka ia masuk neraka. (H.R. Ibnu Majah)