Senin, 8 Desember 2014

Bukan Kurikulumnya Tapi Gurunya

Written by 

Wira Yanasari, S.Pd

Peningkatan kualitas pendidikan melalui perubahan kurikulum. Benarkah?? Sejarah mencatat sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami beberapa kali perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, KBK 2006, KTSP dan yang sekarang Kurikulum 2013. Hal ini tentu merupakan konsekuensi logis akibat perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Karena tantangan kedepan adalah masalah yang bersifat kompleks maka sebagai seperangkat rencana pendidikan yang memang dipersiapkan untuk melahirkan generasi yang siap pula menghadapi tantangan zaman maka kurikulum perlu dikembangkan secara dinamis dan sistematis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Pengembangan kurikulum sendiri sebenarnya merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ia sebagai instrument yang membantu praktisi pendidikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat.

Pengembangan kurikulum merupakan alat untuk membantu guru melakukan tugasnya mengajar dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Ia merupakan salah satu alat untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yakni mengembangkan siswa menjadi manusia yang bertakwa, kepada Allah SWT, berakhlak mulia, sehat, cerdas, berilmu, cakap, kreatif dan mampu menjadi warga Negara yang bertanggung jawab.

Berbicara kurikulum terbaru 2013, Kurikulum ini memiliki inti pada pembelajaran scientific yang menuntut siswa mampu melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang dipelajari dengan penilaian autentik yang sistematis dan berkelanjutan. Harapannya, mampu mencetak generasi yang siap dalam menghadapi tantangan masa depan.. Targetnya, siswa memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang lebih baik. Lebih kreatif, inovatif, dan produktif. Kurikulum 2013 terdengar amatlah ideal dan benar-benar meyakinkan. Namun fakta dilapangan berkata lain. Kontra Kurikulum 2013 bak air bah disampaikan oleh hampir seluruh stackholder pendidikan terkait. Baik melalui media elektronik, maupun media masaa. Tak ketinggalan situs jejaring social media masa layaknya Facebook yang memang digandrungi reamaja usia pelajar turut memprotes diberlakukannya Kurikulum 2013. Keluhan-keluhan tersebut diantaranya, tidak meratanya distribusi buku pegangan siswa dan guru yang amat menghambat proses pembelajaran, keterbatasan sarana prasarana, fasilitas internet sebagai salah satu sumber belajar. Banyak siswa yang mengaku stress akibat kelelahan dengan bertumpuknya tugas dan alur belajar yang tidak mereka pahami. Hal ini diperparah dengan kurangnya pemahaman para guru tentang implementasi Kurikulum 2013, banyaknya administrasi pembelajaran yang harus dilengkapi dan repotnya penilaian autentik yang diwajibkan. Pelatihan-pelatihan kurikulum 2013 yang diselenggarakan pemerintah dirasakan amat kurang bagi para guru. Sederet keluhan-keluhan tadi hanyalah satu dari sekian banyak masalah pendidikan yang terjadi pada masyarakat Indonesia, pastilah hal ini berujung pada sebuah pertanyaaan besar dan mendasar bagi kita. Lalu bagaimana dengan kualitas pendidikan di Indonesia?

Mari sejenak kita mundur kebelakang, bila masalah pendidikan kita adalah kurikulum, bukankah kita telah bergonta ganti kurikulum hingga sebelas kali?? Bahkan oleh Mentri Pendidikan era Pemerintahan Jokowi Anies Baswedan wacana evaluasi Kurikulum 2013 sedang dibahas di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini menunjukkan pergantian kurikulumpun belumlah menjadi solusi yang tepat bagi pendidikan di Indonesia. Lantas apa yang menjadi factor mendasar kemajuan pendidikan suatu bangsa? Saat ini, Finlandia tercatat sebagai negara dengan pendidikan terbaik di dunia. Bagaimana?? Rupanya di Negara ini, Kualitas seorang guru benar-benar menjadi perhatian pemerintah. Guru-guru di Finlandia adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan-pelatihan terbaik pula. Kita boleh berkaca pada pendidikan yang diterapkan di Finlandia. Ternyata Kurikulum hanyalah seperangkat rencana yang akan berhasil jika pelaksananya memiliki integritas mendidik yang terbaik pula. Kurikulum dinilai penting tapi tidak memiliki urgensi yang lebih tinggi dibanding dengan menyempurnakan kualiatas pemain utama dunia pendidikan yakni guru. Kualitas dan kompetensi guru yang harus menjadi acuan. Oleh karenanya, mari kita para guru memfokuskan diri mengembangkan kualitas, kompetensi dan kontribusi. Bukan membuang energi denagan ikut-ikutan memperdebatkan kurikulum. Bukankah kurikulum sangat tergantung pada pelaksananya. Ya, kita. Para gurulah pelaksana utamanya. Jika kemudian ada yang berkata, “yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah”. itu benar, tapi mari kita sejenak mengingat betapa luarbiasanya guru semisal Ibu Een, keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang baginya untuk menjadi guru terbaik meski hanya ditempat tidur. Mari kita malu pada perjuangan ibu Muslimah, di tengah keterbatasan dan kesulitan, guru teladan Nasional ini mampu mengembleng murid-muridnya, dengan berbagai macam kecerdasan menuju prestasi terbaik mereka. Bila peran pemerintah penting, maka kualitas guru jauh lebih penting.

Melihat gambaran diatas, jelaslah kalimat, bukan kurikulumnya tapi gurunya. Guru terbaik adalah guru yang menyadari dengan sepenuh hati kekurangan yang ia miliki, kemudian dengan sesungguh hati pula ia terus belajar, memperkaya ilmu, membuat terobosan karya dalam rangka mendidik kualitas diri untuk menjadi pendidik professional. Karena setiap anak itu cerdas. Karena tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanyalah anak yang belum mendapatkan kesempatan mendapatkan guru terbaik. Maka tugas kita, terus belajar, Salam guru Indonesia ^_~

More important than the curriculum is the question of the methods of teaching and the spirit in which the teaching is given .. ( Bertrand Russell )

Read 1048 times

Profile

Hadist

”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (H.R. Tirmidzi)
”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (H.R. Tirmidzi)
"Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menerima amal seseorang kecuali dengan niat yang tulus dan semata-mata mencari keridhoan-Nya”. (H.R. Nasa’i)
Janganlah kalian belajar (menuntut ilmu) bertujuan untuk berbangga pada ulama karenanya, dan untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, begitu pula bertujuan agar karenanya orang-orang dapat berpaling (menarik perhatian), maka barang siapa yang melakukan itu maka ia masuk neraka. (H.R. Ibnu Majah)